Malam Ini Terakhir Upload Karya PAI Fair

Jum'at, 14 November 2025 - Lomba

Segera Daftar Olimpiade PAI, Terakhir Hari Ini

Senin, 10 November 2025 - Lomba

Pendaftaran PAI Fair Telah Dibuka

Minggu, 2 November 2025 - Lomba

Sosialisasi EMIS 4.0 - BTQ

MGMP PAI - Senin, 20 November 2023.

Lomba Kaligrafi

MGMP PAI - Sabtu, 16 September 2023.

21 September 2026

QS. Ibrahim Ayat 32 Tentang Penciptaan Langit & Bumi

QS. Ibrahim/14 ayat 32 - Allah Subhaanahu Wa Ta'aala berfirman: 


Latin: 

Allāhul-lażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa anzala minas-samā'i mā'an fa akhraja bihī minaṡ-ṡamarāti rizqal lakum, wa sakhkhara lakumul-fulka litajriya fil-baḥri bi'amrih(ī), wa sakhkhara lakumul-anhār(a). 


Terjemahan: 

"Allah SWT-lah yang telah menciptakan langit dan bumi, menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Dia juga telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dia pun telah menundukkan sungai-sungai bagimu." (QS. Ibrahim/14: 32). 


Tafsir Ringkas Kementerian Agama: 

Wahai manusia, perhatikan dan renungkanlah bahwa Allah SWT-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan dan tanpa model yang mendahuluinya. Dan Dia pula yang telah menurunkan air hujan dari awan di langit, kemudian dengan air hujan itu Dia menghijaukan bumi yang semula mati dengan tumbuh-tumbuhan yang mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki dan penopang hidup untukmu. Dan Dia pula yang telah menundukkan kapal bagimu agar engkau dapat dengan mudah berlayar di lautan dengan kehendak-Nya demi memenuhi kebutuhan hidupmu. Dan Dia juga yang telah menundukkan sungai-sungai bagimu agar kamu dan hewan-hewan ternakmu dapat minum darinya serta bisa kamu manfaatkan untuk keperluan lainnya. 


Tafsir Tahlili: 

Allah SWT Yang Maha Esa dan Maha Kuasa sangat banyak melimpahkan nikmat kepada hamba-hamba-Nya. Di antaranya ialah: 

  • Allah SWT Yang Maha Agung, yang ilmunya meliputi segala sesuatu, menerangkan bahwa Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi, yang kejadiannya jauh lebih besar dan lebih sulit dari kejadian manusia, yang selalu disaksikan dan diperhatikan manusia dan pada keduanya terdapat pelajaran dan manfaat. 
    Langit berupa ruang angkasa yang tidak terhingga luas dan besarnya, di dalamnya terdapat benda-benda angkasa berupa planet-planet yang tidak terhitung jumlahnya, masing-masing berjalan menurut garis edar yang telah ditentukan, mengikuti hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah SWT. 
    Tidak ada satu pun dari planet-planet yang tidak mengikuti hukum itu, karena tidak mengikuti hukum-hukum yang telah ditetapkan itu berarti kehancuran bagi seluruh planet-planet itu. Jika direnungkan, diperhatikan, dan dipelajari tata ruang angkasa yang rapi dan teratur itu, akan terasa ketiadaan arti manusia dan semakin terasa pula keagungan dan kebesaran Penciptanya. 
  • Allah SWT juga yang menciptakan bumi yang merupakan salah satu dari planet-planet ruang angkasa, tempat manusia hidup, berdiam, dan mempersiapkan diri sebelum mengalami hidup yang sebenarnya di akhirat. 
    Permukaan bumi ditumbuhi tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam, dengan buahnya yang beraneka macam pula yang berguna dan bermanfaat bagi manusia. Di dalam perut bumi terdapat barang tambang yang beraneka macam. Semuanya itu diciptakan Allah SWT untuk manusia. 
  • Dialah yang menurunkan hujan yang berasal dari uap air dan menjadi awan. Awan itu dihalau-Nya dengan angin ke tempat tertentu, hingga menjadi mendung yang hitam pekat, kemudian berubah dan jatuh sebagai hujan yang menyirami permukaan bumi. 
    Dengan siraman hujan itu, tumbuh dan suburlah tumbuh-tumbuhan yang kemudian menjadi besar, berbunga, dan berbuah, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Hajj/22 ayat 5. 


Daftar Pustaka: 

Qur'an Kementerian Agama, Qur'an Kemenag, https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/14?from=32&to=32, diakses pada 20 September 2026. 


Sumber: Mohammad Hibatul Wafi Al Badruzzaman.

QS. Al-Hajj Ayat 5 Tentang Penciptaan Manusia

QS. Al-Hajj/22 ayat 5 - Allah Subhaanahu Wa Ta'aala berfirman: 


Latin: 

Yā ayyuhan-nāsu in kuntum fī raibim minal-ba‘ṡi fa innā khalaqnākum min turābin ṡumma min nuṭfatin ṡumma min ‘alaqatin ṡumma mim muḍgatim mukhallaqatiw wa gairi mukhallaqatil linubayyina lakum, wa nuqirru fil-arḥāmi mā nasyā'u ilā ajalim musamman ṡumma nukhrijukum ṭiflan ṡumma litablugū asyuddakum, wa minkum may yutawaffā wa minkum may yuraddu ilā arżalil-‘umuri likailā ya‘lama ba‘da ‘ilmin syai'ā(n), wa taral-arḍa hāmidatan fa iżā anzalnā ‘alaihal-mā'ahtazzat wa rabat wa ambatat min kulli zaujim bahīj(in). 


Terjemahan: 

"Wahai manusia, jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, sesungguhnya Kami telah menciptakan (orang tua) kamu (Nabi Adam) dari tanah, kemudian (kamu sebagai keturunannya Kami ciptakan) dari setetes mani, lalu segumpal darah, lalu segumpal daging, baik kejadiannya sempurna maupun tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu (tanda kekuasaan Kami dalam penciptaan). Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan. Kemudian, Kami mengeluarkanmu sebagai bayi, lalu (Kami memeliharamu) hingga kamu mencapai usia dewasa. Di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) yang dikembalikan ke umur yang sangat tua sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya (pikun). Kamu lihat bumi itu kering. Jika Kami turunkan air (hujan) di atasnya, ia pun hidup dan menjadi subur serta menumbuhkan berbagai jenis (tetumbuhan) yang indah." (QS. Al-Hajj/22: 5). 


Tafsir Ringkas Kementerian Agama: 

Wahai manusia! Hidup sesudah mati itu suatu keniscayaan. Jika kamu meragukan hari kebangkitan dari alam kubur, maka perhatikanlah perkembangan hidup kamu. Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, yakni saripati makanan yang berasal dari tanah. Kemudian dari setetes mani yang sudah bercampur dengan sel telur. Kemudian dari segumpal darah yang berkembang menjadi segumpal daging dalam beberapa minggu. 

Kemudian dari segumpal daging itu, ada yang sempurna kejadian dan pertumbuhan-nya, tanpa cacat apa pun, dan ada yang tidak sempurna, karena ada cacat fisik maupun mental sejak dari kandungan, agar Kami jelaskan kepada kamu bahwa kamu berada dalam kekuasaan Kami. Dan Kami tetapkan kamu sewaktu embrio dalam rahim ibumu menurut kehendak Kami hingga tiap orang berbeda rentang waktu berada dalam kandungan ibunya sampai waktu yang sudah ditentukan, biasanya setelah 36 minggu. 

Kemudian Kami keluarkan kamu dari rahim ibu kamu sebagai bayi, kemudian dengan berangsur-angsur kamu tumbuh-kembang sampai kepada usia dewasa. Dan di antara kamu ada yang diwafatkan dalam usia muda, bahkan masih bayi; dan ada pula yang diberi umur panjang, serta dikembalikan kepada usia pikun karena sangat tua, sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya karena penyakit ketuaannya. 

Dan ada contoh lain bagimu betapa mudah bagi Allah membangkitkan manusia dari alam kubur, kamu lihat bumi ini kering, karena kekurangan air di musim kemarau, kemudian apabila telah Kami turunkan air hujan di atasnya, maka hiduplah bumi yang kering kerontang itu dan menjadi subur dan bumi yang subur itu menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah. Demikianlah paparan empiris tentang argumentasi betapa mudah bagi Allah membangkitkan manusia dari alam kubur menuju mahsyar. 


Tafsir Tahlili: 

Pada ayat ini Allah SWT menentang orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari Kiamat dan hari kebangkitan. Seandainya mereka tetap tidak mempercayainya hendaklah mereka mengemukakan alasan-alasan dan bukti-bukti yang dapat menguatkan pendapat mereka itu. Tetapi mereka tidak dapat mengemukakannya. 

Karena itu Allah SWT memberikan contoh diri mereka sendiri, yaitu mulai dari sperma-ovum, kemudian menjadi zygat, ‘alaqah, janin, kemudian lahir menjadi besar dan kemudian mati, bila menciptakan dari tiada Allah mampu, tentu saja mengulang penciptaan manusia kembali adalah lebih mudah dari penciptaan pertama kali. 

Orang yang tidak percaya akan adanya hari kebangkitan menganggap kebangkitan itu merupakan suatu kejadian yang mustahil terjadi. Dalam pandangan mereka tidak mungkin tulang belulang yang telah lapuk berserakan, dan daging-daging yang telah hancur luluh menjadi tanah akan kembali bersatu dalam bentuk seperti semula. 

Kesanggupan dan kekuasaan Allah SWT mereka ukur sama dengan kesanggupan dan kekuasaan mereka sendiri. Jika mereka merasa tidak sanggup melakukan sesuatu pekerjaan, tentu Allah SWT tidak pula akan sanggup melakukannya. Mereka yang tidak percaya itu semata-mata karena keingkaran saja, karena dikuasai hawa nafsu dan godaan setan, sedangkan hati dan akal pikiran mereka sebenarnya mengakuinya. 

Mereka khawatir kedudukan dan pangkat mereka akan terancam jika mereka mengikuti kepercayaan dan agama yang dibawa oleh Muhammad SAW. Karena itu mereka membantah Allah SWT tanpa berdasar ilmu pengetahuan yang benar. 

Pada ayat ini Allah SWT mengemukakan petunjuk tentang adanya hari kebangkitan dengan mengemukakan dua macam alasan. Pertama ialah ber-hubungan dengan proses kejadian manusia dan yang kedua berhubungan dengan proses kehidupan dan pertumbuhan tumbuh-tumbuhan. 

Proses kejadian manusia di dalam rahim ibunya dan kehidupannya dari lahir sampai mati sebagai berikut: 

  1. Allah SWT telah menciptakan manusia pertama, yaitu Adam as., dari tanah. Kemudian dari Adam diciptakan istrinya Hawa, dan dari kedua mahluk itu berkembangbiaklah manusia melalui proses yang cukup panjang. Dapat pula berarti bahwa manusia diciptakan Allah melalui pembuahan ovum oleh sperma di dalam rahim perempuan. 
    Kedua sel itu berasal dari darah, darah berasal dari makanan yang dimakan manusia, dan makanan manusia berasal dari tumbuh-tumbuhan dan ada yang berasal dari binatang ternak atau hewan-hewan yang lain. Semuanya itu berasal dari tanah sekalipun telah melalui beberapa proses. Karena itu tidaklah salah jika dikatakan bahwa manusia itu berasal dari tanah. 
  2. Dalam ayat ini disebutkan bahwa manusia itu berasal dari nuṭfah. Yang dimaksud dengan nuṭfah ialah zygat, yaitu ovum yang sudah dibuahi oleh sperma. 
  3. ‘Alaqah, yaitu zygat yang sudah menempel di rahim perempuan. 
  4. Muḍgah, yaitu ‘alaqah yang telah berbentuk kumpulan sel-sel daging, sebesar yang dikunyah. (muḍgah artinya mengunyah). Muḍgah itu ada yang tumbuh sempurna, tidak cacat dan ada pula yang tumbuh tidak sempurna dan cacat. Kejadian sempurna dan tidak sempurna inilah yang menimbulkan kesempurnan fisik manusia, cacat atau keguguran. 
    Proses kejadian nuṭfah menjadi ‘alaqah adalah empat puluh hari, dari ‘alaqah menjadi muḍgah” juga empat puluh hari. Kemudian setelah lewat empat puluh hari itu, Allah, meniupkan roh, menetapkan rezeki, amal, bahagia dan sengsara, menetapkan ajal dan sebagainya, sebagaimana tersebut dalam hadis: 
    Artinya: "Sesungguhnya penciptaan seseorang di antara kamu disatukan dalam perut ibunya selama 40 malam dalam bentuk nuṭfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama itu pula lalu menjadi muḍgah selama itu pula. Kemudian Allah mengutus malaikat, lalu meniupkan roh ke dalamnya, maka (malaikat itu) diperintahkan menulis empat kalimat, yaitu  menuliskan rezekinya, amalnya, ajalnya, bahagia atau sengsara." (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Ibnu Mas‘ūd). 
    Dalam hadits yang lain diterangkan: 
    Artinya: Bersabda Rasulullah SAW, “Malaikat mendatangi nuṭfah setelah menetap di dalam rahim 40 atau 45 hari, maka ia berkata, “Wahai Tuhanku: Burukkah atau untungkah?” (Lalu Allah SWT memfirmankan buruk atau baiknya), maka ditulislah keduanya (yakni buruk atau baiknya). Maka Malaikat berkata pula, “Wahai Tuhanku laki-lakikah dia atau perempuan?” (Lalu Allah SWT memfirmankan tentang laki-lakikah dia atau perempuan), maka ditulislah keduanya (yakni laki-laki atau perempuan), dan ditulislah kerja, peninggalan, ajal dan rezekinya. Kemudian ditutuplah lembaran-lembaran itu, maka apa yang telah dituliskan di dalamnya tidak dapat ditambah atau dikurangi lagi." (HR. Ibnu Abī Ḥātim dan Muslim). 
    Allah SWT menetapkan proses kejadian yang demikian, yaitu membiarkan nuṭfah, ‘alaqah, muḍgah sampai berbentuk janin yang sempurna dalam waktu yang ditentukan itu, adalah untuk menerangkan kepada manusia tanda-tanda kekuasaan, kebesaran dan kekokohan aturan-aturan yang dibuat-Nya, dan untuk menjadi bahan pemikiran bagi manusia, bahwa jika Allah SWT kuasa menciptakan manusia pada kali yang pertama, tentulah Dia kuasa pula menciptakannya pada kali yang kedua, dan menciptakan sesuatu pada kali yang kedua itu biasanya lebih mudah dari menciptakannya pada kali yang pertama. 
    Membangkitkan manusia dari kubur pada hakikatnya adalah menciptakan manusia pada kali yang kedua. Tentu hal itu sangat mudah bagi Allah SWT. Bahkan jika Allah SWT menghendaki kejadian sesuatu tidak melalui proses yang demikian, tidaklah sukar bagi Allah SWT. Karena jika Dia menghendaki adanya sesuatu, cukuplah Dia mengatakan kepadanya, “Jadilah.” Maka terwujud sesuatu itu. 

Sumber: Mohammad Hibatul Wafi Al Badruzzaman.

20 September 2026

Hadits Tentang Penciptaan Manusia

Proses kejadian nuṭfah menjadi ‘alaqah adalah empat puluh hari, dari ‘alaqah menjadi muḍgah” juga empat puluh hari. Kemudian setelah lewat empat puluh hari itu, Allah, meniupkan roh, menetapkan rezeki, amal, bahagia dan sengsara, menetapkan ajal dan sebagainya. 

Sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud

Terjemahan: 

"Sesungguhnya penciptaan seseorang di antara kamu disatukan dalam perut ibunya selama 40 malam dalam bentuk nuṭfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama itu pula lalu menjadi muḍgah selama itu pula. Kemudian Allah mengutus malaikat, lalu meniupkan roh ke dalamnya, maka (malaikat itu) diperintahkan menulis empat kalimat, yaitu  menuliskan rezekinya, amalnya, ajalnya, bahagia atau sengsara." (HR. al-Bukhārī dan Muslim dari Ibnu Mas‘ūd). 


Dalam hadits yang lain diterangkan: 

Terjemahan: 

Bersabda Rasulullah SAW, “Malaikat mendatangi nuṭfah setelah menetap di dalam rahim 40 atau 45 hari, maka ia berkata, “Wahai Tuhanku: Burukkah atau untungkah?” (Lalu Allah SWT memfirmankan buruk atau baiknya), maka ditulislah keduanya (yakni buruk atau baiknya). Maka Malaikat berkata pula, “Wahai Tuhanku laki-lakikah dia atau perempuan?” (Lalu Allah SWT memfirmankan tentang laki-lakikah dia atau perempuan), maka ditulislah keduanya (yakni laki-laki atau perempuan), dan ditulislah kerja, peninggalan, ajal dan rezekinya. Kemudian ditutuplah lembaran-lembaran itu, maka apa yang telah dituliskan di dalamnya tidak dapat ditambah atau dikurangi lagi. (HR. Ibnu Abī Ḥātim dan Muslim). 


Daftar Pustaka: 

Qur'an Kementerian Agama, Qur'an Kemenag, https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/22?from=5&to=78, diakses pada 20 September 2026. 


Sumber: Mohammad Hibatul Wafi Al Badruzzaman.

12 Agustus 2026

Macam-Macam Hukum Bacaan Tajwid

MACAM-MACAM HUKUM BACAAN TAJWID: 

  1. Hukum Bacaan Nun Sukun / Nun Mati (Tanwin). 
    • Idzhar Halqi. 
    • Ikhfa Haqiqi. 
    • Iqlab. 
    • Wajibul ghunnah: 
      • Idghom Bighunnah. 
      • Idghom Bilaghunnah. 
  2. Hukum Bacaan Mim Sukun / Mim Mati / مْ
    • Idzhar Syafawi. 
    • Ikhfa Syafawi. 
    • Idghom Mimi / Idghom Mutamatsilain. 
  3. Hukum Bacaan Mad. 
    • Mad Asli ; Mad Thobi'i. 
    • Mad Far'i / Cabang : 
      1. Mad Wajib Muttashil. 
      2. Mad Jaiz Munfashil. 
      3. Mad 'Aridh Lis Sukun. 
      4. Mad Badal. 
      5. Mad 'Iwadh. 
      6. Mad Layyin. 
      7. Mad Tamkin. 
      8. Mad Farqu. 
      9. Mad Shilah Qoshiroh. 
      10. Mad Shilah Thowilah. 
      11. Mad Lazim Mukhafaf Kilmi. 
      12. Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi. 
      13. Mad Lazim Harfi Mukhafaf. 
      14. Mad Lazim Harfi Mutsaqqal. 
  4. Hukum Bacaan Alif Lam Ta'rif. 
    1. Idzhar Qomariyyah. 
    2. Idghom Syamsiyyah. 
  5. Hukum Bacaan Qolqolah. 
    1. Qolqolah Sughro. 
    2. Qolqolah Kubro. 
  6. Hukum Bacaan Tafkhim dan Tarqiq. 
    1. Takfkhim. 
    2. Tarqiq. 
  7. Hukum Bacaan Waqof. 
    1. Waqful Ulaa ( وَقْفُ الْأُوْلَى ), dan lambangnya adalah ( قلى ), artinya lebih diutamakan berhenti. 
    2. ًWashlul Ulaa, artinya lebih diutamakan disambung. 
    3. Saktah. 
    4. Mamnu'. 
Sumber: Mohammad Hibatul Wafi Al Badruzzaman.

19 Juli 2026

QS. Al-Maidah Ayat 48 Tentang Kedudukan Al-Qur'an Terhadap Kitab-Kitab Terdahulu

QS. Al-Maidah/5 ayat 48 - Allah Subhaanahuu Wa Ta'aala berfirman: 


Latin: 

Wa anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi muṣaddiqal limā baina yadaihi minal-kitābi wa muhaiminan ‘alaihi faḥkum bainahum bimā anzalallāhu wa lā tattabi‘ ahwā'ahum ‘ammā jā'aka minal-ḥaqq(i), likullin ja‘alnā minkum syir‘ataw wa minhājā(n), wa lau syā'allāhu laja‘alakum ummataw wāḥidataw wa lākil liyabluwakum fī mā ātākum fastabiqul-khairāt(i), ilallāhi marji‘ukum jamī‘an fa yunabbi'ukum bimā kuntum fīhi takhtalifūn(a). 


Terjemahan: 

"Kami telah menurunkan kitab suci (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan (membawa) kebenaran sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai penjaganya (acuan kebenaran terhadapnya). Maka, putuskanlah (perkara) mereka menurut aturan yang diturunkan Allah SWT dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan (meninggalkan) kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Seandainya Allah SWT menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja). Akan tetapi, Allah SWT hendak mengujimu tentang karunia yang telah Dia anugerahkan kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah SWT kamu semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang selama ini kamu perselisihkan." (QS. Al-Maidah/5: 48). 


Penggalan Ayat: 

Artinya: "Kami telah menurunkan kitab suci (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan (membawa) kebenaran sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai penjaganya (acuan kebenaran terhadapnya). ..." (QS. Al-Maidah/5: 48). 


Daftar Pustaka. 

Qur'an Kementerian Agama, Qur'an Kemenag, https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/5?from=48&to=120, diakses pada 19 Juli 2026.

Andalusia: Kota Peradaban Islam di Barat (756-1031 M)

Bab X - Andalusia: Kota Peradaban Islam di Barat (756 - 1031 M) merupakan materi pembelajaran yang terdapat dalam buku teks siswa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP Kelas VII pada semester genap. 

Dalam bab ini berisikan: 

  1. Tujuan Pembelajaran. 
  2. Infografis. 
  3. Pantun Pemantik. 
  4. Mari Bertafakur. 
  5. Titik Fokus. 
  6. Thalab al-'Ilm. 
    1. Bani Umayyah di Andalusia. 
    2. Kejayaan Islam di Andalusia. 
    3. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah di Andalusia. 
    4. Memetik nilai Islami dalam Sejarah Bani Umayyah di Andalusia. 
  7. Ikhtisar. 
  8. Inspirasiku. 
  9. Aku Pelajar Pancasila. 
  10. Diriku. 
  11. Rajin Berlatih. 
  12. Siap Berkreasi. 
  13. Selangkah Lebih Maju. 

FILM SEJARAH ANDALUSIA. 

Eksplorasi sinematik terbaik mengenai peradaban Islam di Andalusia dapat ditemukan melalui: 

  1. Film dokumenter: 
    • Sejarah Islam di Eropa, produksi BBC yang dipandu Rageh Omaar
  2. Film serial drama epik: 
    • Umar bin Khattab; dan 
    • The Message, yang merekam jejak kekhalifahan. 
  3. Film berlatar periode Moor di Spanyol (Al-Andalus): 
    • The Long Ships (opsi populer). 

Sumber: Moh. Hibatul Wafi ALBDZ.